Cara Membuat Jenang Sumsum Yang Enak

Cara Membuat Jenang Sumsum Yang Enak

Hey!! Kamu pengen makan jenang sumsum tapi tidak tahu cara membuat jenang sumsum? tenang… di artikel ini  akan saya bagikan informasi mengenai jenang sumsum dan cara membuat jenang sumsum yang enak dan mudah! Yuk simak artikelnya!

cara membuat jenang sumsum

Bubur sumsum atau yang sering disebut jenang sumsum ini tidak dibuat sembarangan.

Umumnya jenang sumsum dipersembahkan untuk orang-orang yang telah membantu dalam jalannya sebuah acara besar semacam pernikahan dan khitanan dengan arti konotatif yaitu dibuat dengan tujuan supaya orang-orang yang telah ikut melancarkan acara tersebut dapat membebaskan diri dari rasa capek dan penat karena telah membantu.

Hidangan ini juga diyakini mempunyai arti kultural yang bertujuan agar semua keluarga dan orang-orang yang telah membantu memiliki stamina kembali sesudah beberapa hari semua pikiran dan fisiknya tertuntung oleh upacara pernikahan.

Sebagai pelengkap melahap jenang sumsum, umumnya akan disediakan parem sebagai minuman yang cocok untuk melengkapi menyantap hidangan ini.

Namun karena tekstur makanannya yang basah membuat bubur ini cepat basi yang pada akhirnya dibuang atau digunakan menjadi campuran pakan ayam.

Jenang Sumsum Adalah Hidangan Yang Berasal Dari Tepung Beras Menggunakan Kuah Yang Dinamakan Juruh yang Merupakan Air Rebusan Gula Jawa.

Jenang sumsum mempunyai rasa manis yang terasa lembut bisa menyehatkan fungsi pencernaan dan mengembalikan stamina karena rasa capek setelah mengikuti suatu hajatan seperti pernikahan, khitanan, mendirikan rumah atau upacara adat lainnya.

Dalam bentuk ekonomi, jenang sumsum banyak dijajakan di sebuah warung-warung kecil dan pasar tradisional.

Di pedesaan jenang sumsum dijajakan dengan cara tradisional yaitu dibungkus menggunakan daun pisang dengan sendok pincuk suru yang juga terbuat dari daun pisang. Lain halnya dengan di daerah perkotaan, jenang sumsum dijajakan dengan dibungkus wadah berupa mangkok atau gelas yang terbuat dari plastik.

Sampai saat ini bubur sumsum masih dilestarikan di pulau Jawa. Karena filosofi yang dipercaya masyarakat yaitu bubur sumsum merupakan simbol kesederhanaan dan rasa penuh syukur, karena keberadaannya terwujud dari terbatasnya kecukupan pangan waktu itu.

 

Sejarah Jenang Sumsum

cara membuat jenang sumsum

Saat masa penjajahan, leluhur kita yang hidup di waktu itu mengalami kesulitan mendapatkan bahan makanan pokok yaitu nasi, yang disebabkan oleh lahan rakyat direnggut dan dipakai untuk para penjajah.

Lahan tersebut tidaklah digunakan untuk memenuhi kepentingan rakyat indonesia. Di tengah tekanan seperti itu, rakyat indonesia mulai mencari cara supaya dapat terbebas dari kelaparan.

Cara yang ditempuh nenek moyang kita adalah dengan mengusahakan kuantitas beberapa liter beras menggunakan perbandingan air yang lebih banyak. Hal tersebut merupakan asal mula adanya bubur atau jenang pada waktu itu. Termasuk jenang sumsum yang terbuat dari beras ketan dimasak secara tradisional menggunakan arang.

Demi memperoleh makanan dengan porsi yang lebih banyak, bubur atau jenang sudah pasti menjadi pilihan terbaik.

Dalam bentuk sosiologis jenang adalah jenis kuliner yang hadir dari kreativitas rakyat indonesia dan eksistensinya terbebas dari atribut status sosial dan etnis. Alias jika menggunakan kata lain jenang bersifat egaliter, religius, spiritual dan demokratis.

Sifat yang erat secara implisit merupakan suatu kondisi yang menjadikan jenang sumsum mempunyai nilai edukatif pada masyarakat. Jenang sumsum menjadi nilai edukatif dalam membangun solidaritas masyarakat Solo untuk saling memberi dalam kehidupan sehari-hari.

Mayoritas Masyarakat Jawa Selalu Menjalani Ritual Adat Dilengkapi Dengan Jenang Sumsum

Terlebih di daerah Surakarta dan sekitarnya, menjalani segala ritual selamatan tidak pernah absen dari kehadiran jenang. Budaya simbolisasi itu ditunjukkan dalam berbagai macam acara kegiatan, dimulai dari pendirian rumah, syukuran, kelahiran anak, dan ritual kejawen lainnya.

Hingga saat ini masyarakat kebanyakan menggangap jenang hanya sebuah makanan ringan tradisional khas Jawa. Kebanyakan tidak tahu mengenai filosofi dibalik simbolisasi Jenang di suatu acara adat selametan masyarakat Jawa.

Masyarakat yang awam hanya tau kalau ada ritual wajib ada jenang, tanpa mengetahui makna dibelakangnya. Sedangkan berbagai macam jenis jenang yang dipersembahkan di acara selamatan itu mengandung berbagai makna bagi masyarakat Jawa, terlebih orang Solo dan sekitarnya dengan berbagai ritual tradisinya.

Pada Jenang sumsum itu sendiri menyimpan makna bahwa diri manusia melekat sifat kekuatan dan kelemahan. Kekuatan yang dimiliki manusia sebaik-baiknya dimanfaatkan untuk nilai kebaikan.

Fakta-Fakta tentang Jenang Sumsum

cara membuat jenang sumsum

1. Asal muasal nama “sumsum” pada jenang sumsum

Karena jenang memiliki derajat lebih rendah dari nasi, jenang di negara Indonesia lebih menyatakan pada keterbatasan, itulah sebabnya sedikit jenang yang terdapat campuran daging hewan. Apa yang membuat bubur beras ketan ini disebut dengan “sumsum”? Dikarenakan jenang atau bubur ini memiliki warna putih seperti halnya warna sumsum tulang, jadi pemberian nama bubur ini adalah bubur sumsum.

2. Biji salak merupakan pelengkap jenang sumsum

Sumsum sangatlah nikmat meskipun dihidangkan dengan juruh gula merah dan santan saja. Tetapi biasanya dalam kondisi tertentu jenang sumsum dihidangkan dengan biji salak. Biji salak yang dimaksud adalah salah satu makanan memiliki bahan dasar umbi-umbian berwujud bulatan kecil yang berwarna oranye-kecokelatan. Jenang sumsum biji salak ini kebanyakan ditemui di waktu bulan Ramadan, menjadi santapan atau takjil saat berbuka puasa.

3. Jenang sumsum warna hijau dengan tambahan daun pandan atau daun suji

Sumsum tidak hanya berwarna putih seperti sumsum tulang, tetapi jenang sumsum ada juga yang dihidangkan dengan warna hijau. Jenang yang berwarna hijau ini berasal dari tambahan pewarna alami daun pandan atau daun suji yang pastinya membuat aroma jenang sumsum ini sangat menggugah selera.

4. Filosofi jenang sumsum dalam jamuan ritual adat

Bubur sumsum tidak hanya dianggap makanan yang mampu mengenyangkan perut, jenang sumsum juga sering digunakan untuk jamuan saat ritual adat sedang berjalan, khususnya bagi masyarakat di pulau Jawa. Contoh ritual adat tersebut  adalah ‘pitulungan‘, yang memiliki arti meminta kepada Tuhan supaya dilancarkan keinginannya.

Memakan jenang sumsum juga dipercaya dapat menghilangkan rasa capek sesudah acara ritual adat tersebut selesai dilaksanakan.

Salah satu filosofi dari jenang sumsum adalah jenang sumsum merupakan simbol dari kesederhaan dan rasa penuh syukur. Lagi pula jenang sumsum terwujud karena keterbatasan makanan. Yang membuat kita menjadi lebih menghargai sesuatu yang  sederhana tapi ternyata memiliki banyak manfaat.

Kandungan Jenang Sumsum

Setiap satu mangkuk jenang sumsum terdapat sekitar 418 kalori, yang terdiri dari 77% karbohidrat, 18% lemak dan 4% protein.

Bahan utama jenang sumsum, yaitu tepung beras dipercaya mengandung banyak nutrisi, yaitu berupa vitamin, serat dan mineral yang berguna untuk menjaga kesehatan usus maupun sistem pencernaan secara umum. Tepung beras mengandung karbohidrat, sehingga bisa menjadi pengganti nasi dan sumber energi.

Pada bahan santannya banyak terkandung lemak jenuh, yang dapat membantu menambah energi. Santan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, ini disebabkan karena santan bersifat sebagai antibakteri dan antivirus. Tak lupa, santan kelapa dapat digunakan untuk mencegah dan melawan radang tenggorokan.

Yang terakhir, kuah atau juruh dibuat dari gula Jawa maupun gula aren dapat membantu meningkatkan sistem imun tubuh. Penyebabnya, gula jawa mengandung beberapa vitamin seperti vitamin C, asam folat, riboflafin, niacin, thiamin, dan mineral.

Jenang Sumsum Sering Dijadikan Menu Utama Bagi Orang Sakit

Apalagi pengidap penyakit pencernaan atau penyakit gigi. Jenang sumsum memberi manfaat yang sangat baik terutama untuk penderita asam lambung, karena bisa menetralkan asam lambung, sehingga berguna sebagai pereda nyeri lambung.

Adapun kandungan gizi pada jenang sumsum antara lain berupa vitamin A, B1, lemak, protein,  mineral yang berupa magnesium, zat besi dan fosfor.

Selain itu dipercaya bisa menunjang pengobatan radang ginjal, tekanan darah tinggi, melancarkan pencernaan serta mengobati keracunan alkohol.

Berbagai macam bahan tersebut ternyata memiliki banyak akan manfaat, salah satunya adalah sumber energi. Itulah sebabnya jenang sumsum sangat pas dijadikan sarapan di pagi hari. Tekstur lembut dan sifatnya yang mengenyangkan bisa menjadi pilihan sumber energi sebelum beraktivitas sehari-hari.

Manfaat Jenang Sumsum

1. Menghangatkan perut

Jika dihidangkan dalam keadaan hangat, bubur sumsum akan memberikan kehangatan pada dinding lambung sehingga membuat nyaman perut dan menjadikannya siap untuk memproses makanan selanjutnya yang masuk ke dalam lambung. Suhunya yang hangat dan tekstur lembut jenang di mulut dapat memberikan efek relaksasi pada tubuh.

2. Mengurangi asam lambung

Perut memerlukan minuman atau makanan yang halus agar dinding lambung tidak kaget, lebih-lebih makanan yang pas dapat menetralkan asam lambung. Dengan begitu jenang sumsum atau nasi bubur dengan kandungan pati dan air dikandungannya akan sangat ideal menetralkan asam lambung tinggi yang disebabkan tidak minum dan makan seharian.

3. Tubuh mudah menyerap sari makanan

Bahan baku yang paling dominan dari jenang sumsum adalah tepung beras, santan, air dan gula yang merupakan sumber karbohidrat sederhana, usus akan lebih mudah mencerna dan menyerap sari makanan yang kemudian mengubahnya menjadi energi sehingga stamina tubuh kembali pulih dan tidak terasa lemas.

4. Membuat perut kenyang

Mengandung banyak karbohidrat, membuat perut akan mudah merasa kenyang sesudah makan satu porsi jenang sumsum. Memakan jenang ini akan menjadikan orang yang berbuka tidak berkeinginan banyak makan karena telah merasa kenyang dahulu. Yang mana bagus untuk mencegah makan secara berlebihan.

5. Mengurangi keinginan makan dan minum manis

Didalam juruh jenang sumsum terdapat gula yang berasa manis, otak akan merespon dengan mengurangi nafsu makan makanan manis karena tubuh sudah merasa tercukupi terhadap makanan yang manis. Tubuh kehilangan nafsu pada makanan manis lainnya sehingga kita dapat mengontrol kadar gula darah dan kenaikan berat badan yang disebabkan oleh mengonsumsi terlalu banyak gula.

Cara Membuat Jenang Sumsum

Berikut ini merupakan variasi dari Jenang Sumsum dan cara membuatnya

Cara Membuat Jenang Sumsum Original

Bahan jenang:

  • 100 gram tepung beras
  • 2 bungkus santan kara ukuran 65mililiter + air 750 mililiter
  • 1/2 sendok makan garam
  • 3 daun pandan, diikat

Bahan juruh:

  • 3 potong gula jawa
  • 1 sendok makan gula pasir
  • 2 gelas sedang belimbing air
  • 1 lembar daun pandan, diikat
  • 1/2 sendok teh bubuk kayu manis
  • 1 sendok makan tepung maizena dilarutkan

Cara Membuat Jenang:

  1. Masukan tepung beras, air, santan dan garam ke dalam panci. Aduk dengan merata dan hingga tiada gumpalan. Masukkan daun pandan ke dalam panci. Nyalakan api di kompor dengan api sedang. Aduk terus menerus agar tidak gosong.
  2. Aduklah hingga mengental, jangan sampai ada yang bergerindil.
  3. Setelah kental dan mengeluarkan aroma. Matikan api.

Juruh:

  1. Masukkan gula jawa ke dalam panci bersama air, pandan, kayu manis bubuk, gula pasir.
  2. Aduk terus menerus hingga mendidih. Matikan kompor. Saring gula jawa yang telah melebur tersebut.
  3. Hidupkan kompor masukkan maizena yang telah dilarutkan, aduk hingga kental.

Cara Membuat Jenang Sumsum Mutiara

Bahan:

  • 100 gram tepung beras
  • 400 mililiter santan kental
  • 600 mililiter air minum
  • 1 lembar daun pandan
  • 1/2 sendok teh garam

Bahan Juruh:

  • 200 gram gula jawa
  • 200 mililiter air
  • 1 lembar daun pandan
  • 2 centimeter kayu manis

Cara Membuat:

  1. Masukkan gula kedalam panci bersama air, rebus dengan api sedang di atas kompor sampai gula larut, angkat dari kompor lalu saring dan sisihkan.
  2. Campurkan antara air dan santan, lalu ambil 300 mililiter dan masukkan tepung beras beserta garam aduk secara merata dan sisihkan.
  3. Panasi sisa santan 700ml dengan api sedang hingga mendidih, lalu angkat dari kompor dulu dan masukkan larutan tepung beras tadi. Aduk dengan rata, kembalikan ke kompor lagi, hidupkan kompor dengan api kecil.
  4.  Aduk terus menerus dengan spatula sampai meletup-letup dan matang, angkat.
  5.  Susun jenang sumsum dalam wadah kemudian siram dengan juruh gula jawa beri toping sesuai keinginan, seperti candil, nangka, maupun mutiara

Cara  Membuat Jenang Sumsum Candil

Bahan Candil :

  • 60 gram tepung ketan
  • 1 sendok teh tepung tapioka
  • 50 mililiter air minum
  • Sejumput garam

Bahan Jenang :

  • 9 sendok makan tepung beras
  • 65 mililiter santan kental
  • 500 mililiter air
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/2 sendok teh garam

Bahan Kinca Gula Jawa :

  • 1 1/2 keping gula jawa (sisir halus)
  • 500 mililiter air
  • 1 sendok makan tepung ketan + 1 sendok makan tepung tapioka (larutkan dengan sedikit air)

Bahan Kuah Santan :

  • 5 sendok makan fibercreme
  • 250 mililiter air
  • 3 lembar daun pandan
  • 1/2 sendok teh garam

Cara Membuat :

  1. Masukkan semua bahan candil, adonan akan lengket tetapi masih bisa dibentuk bulat.
  2. Bentuk bulat candil, masak kuah gula jawa kecuali tepung tapioka dan tepung ketan. Sesudah air mendidih, gula jawa cair, masukkan candil, tunggu hingga matang yang ditandai dengan mengapung. Teruskan masak hingga candil berubah menjadi coklat, beri larutan tepung tapioka & ketan masak hingga meletup-letup dan matikan kompor.
  3. Campurkan bahan bubur sumsum sesudah tepung larut dan nyalakan kompor. Masak hingga menjadi bubur kental.
  4. Panaskan kuah santan, apabila santan sudah melembung matikan api kompor. Jangan sampai mendidih agar tidak pecah.
  5. Susun di wadah jenang sumsum candil, kemudian siram menggunakan kuah santan.

Cara Membuat Jenang Sumsum Pandan Candil Labu

Bahan Jenang Sumsum:

  • 100 gram tepung beras putih
  • 400 mililiter air pandan dan suji (diblender dari 6 lembar daun) ️
  • 600 mililiter santan kental (atau santan kara instant kecil ditambah air)
  • 1 sendok teh garam ️
  • 1 sendok teh pasta pandan (opsional)

Bahan Kuah Gula Jawa :

  • 250 gram gula jawa, iris-iris ️
  • 100 mililiter air
  • Sejumput garam ️
  • 1 lembar daun pandan, sobek-sobek ️
  • 1 batang cengkeh

Bahan Kuah Santan :

  • 150 mililiter santan
  • ️1/2 sendok teh garam ️
  • 1 lembar daun pandan, disobek-sobek

Cara Membuat:

  1. Campurkan air blenderan pandan + pasta pandan + sebagian santan dan aduk merata lalu masak sampai mendidih.
  2. Campurkan sisa santan dengan tepung beras, aduk merata, kemudian tuang perlahan ke dalam air rebusan pandan sambil diaduk terus menerus secara cepat sampai kental dan meletup-letup, matikan kompor.

Cara Membuat Kuah Gula Jawa :

  1. Campurkan bahan kuah gula jawa, kemudian panaskan hingga mendidih dan gula mencair, angkat lalu saring.

Cara Membuat Kuah Santan :

  1. Campurkan bahan kuah santan lalu masak sampai mendidih.

Bahan Candil Labu :

  • 300 gram tepung ketan
  • 200 gram labu kuning dikukus dan dihaluskan

Cara Membuat Candil Labu:

  1. Campurkan tepung ketan dengan labu kukus. Uleni sampai bisa dipulung. Kemudia rebus dengan air mendidih.
  2. Angkatlah candil apabila sudah mengapung. Tiriskan dalam wadah berisi air matang.
  3. Masukkan candil ke dalam kuah gula jawa. Masak selama 3 menit. Matikan kompor. Beri toping jenang sumsum dengan candil.

Cara Membuat Jenang Sumsum Nangka

Bahan:

  • 100 gram tepung beras
  • 1.000 mililiter (santan kental ditambah air)
  • 3 lembar daun pandan, diikat simpul
  • 1 sendok teh garam Nangka, dipotong dadu

Cara Membuat:

  1. Campurkan semua bahan kecuali pandan, lalu saring.
  2. Api dinyalakan sedang cenderung kecil dan masukkan pandan. Terus diaduk sampai adonan kental dan sedikit meletup.
  3. Masukkan potongan nangka. Aduk dengan rata.

Juruh:

  • 200 gram gula jawa
  • 250 mililiter air

Cara Membuat:

  1. Sisir gula jawa lalu beri air.
  2. Panaskan sampai gula mencair dengan api sedang.

Sekian dari artikel yang dapat saya tulis, semoga dapat bermanfaat bagi yang membaca.

Comments are closed.